Nikakhahaa watazwijahaa linafsi bidzaalik.......
Masih terngiang jelas ditelingaku suara Mas Habibi Farhani Hidayatullah
suamiku tercinta yang melafalkan dengan lantang kalimat itu. Kalimat
yang menjadikan aku yang dulu haram baginya kini menjadi halal untuk
disentuhnya.
Rasa merinding ketika dia mengusap kepalaku dan mencium keningku sembari
berkata “Anti Sakinatirruh” juga masih terasa sampai saat ini. Rasaya
baru beberapa hari kemarin saja kejadian itu berlangsung. Aku merasa
bangga dan bahagia karena dianugerahi suami yang sholeh, bertanggung
jawab dan penyayang seperti dia. Tapi sayang.........
Belum selesai lamunanku, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan
ucapan salam. Yaa itu suara salam dari suamiku tercinta yang baru pulang
bekerja. Cepat-cepat aku bergegas membukakan pintu untuknya...
“Waalaikumussalam mas” (Ku raih tas yang dibawanya dan ku cium tangannya..)
“Aku sudah siapkan makanan, ayo kita makan dulu” (sambil berjalan ke ruang makan).
“Iya sayang, kamu kenapa? Sepertinya terlihat lelah sekali? Jawab Mas Habibi.
“Aku tidak apa-apa mas, hanya sedikit kurang enak badan saja.” Tegasku
Memang sudah satu bulan ini aku tidak lagi bekerja karena kondisiku yang
semakin melemah. Dulu aku mengajar di sebuah sekolah menengah atas di
dekat tempat tinggal kami. Tetapi setelah kejadian aku pingsan di
sekolah dan opname di Rumah Sakit menyebabkan aku harus banyak
beristirahat di rumah. Sebenarnya sudah lima tahun ini aku menderita
kanker rahim tapi aku menyembunyikan hal ini dari Mas Habibi karena aku
takut mengecewakannya.
Memang sudah sepuluh tahun kita menikah tapi belum juga dikaruniai
seorang anak. Hal ini yang membuat aku semakin merasa bersalah dan hanya
mengurung diri di rumah saja. Mas Habibi juga selalu berkata padaku
agar aku tidak hanya berdiam diri di rumah saja, tetapi memang kenyataan
bahwa aku menderita kanker rahim sehingga aku tidak bisa memberikan
keturunan adalah hal yang berat yang harus aku jalani tanpa
sepengetahuan Mas Habibi.
Akhirnya aku memutuskan untuk bersilaturrahim ke pesantren tempat aku
menimba ilmu dulu ketika aku menyelesaikan S.1 ku. Sekedar ingin
berkunjung dan melihat keadaan pesantren juga karena rindu dengan
keluarga ndalem.
Sesampainya di pesantren aku berjalan menyusuri kamar santri,
perpustakaan, aula dan taman pesantren. Semuanya sudah berubah tidak
sama seperti dulu ketika aku masih menjadi santri. Kangen rasanya
masa-masa menjadi santri, tidur berdesak-desakan, makan seadanya,
semuanya harus mengantri dan yang paling tidak terlupakan adalah
saat-saat mengaji yang terkadang ada yang mengantuk, males ataupun capek
karena seharian di kampus. Yaaa itu sudah menjadi resiko kami selaku
Mahasiswi dan Mahasantri.
Akupun bergegas ke ndalem karena ingin menemui pak kyai dan keluarganya.
Tapi langkahku terhenti saat aku melihat di taman ada seorang perempuan
berkerudung merah bersama anak kecil yang sedang menangis. Rasa
penasaranpun mendorongku untuk mendekati perempuan tersebut sembari
mengucapkan salam....
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumussalam, ada yang bisa saya bantu?” Perempuan itu menjawab dengan suara yang lembut.
“Annisa? Kamu Annisa Nurul Madina kan? Adik kelasku dulu?” Tegasku dengan nada yang terkejut.
“Ya Allah mbak Khumairah?” jawabnya.
“Iya ini aku Nis, kamu apa kabar?” tanyaku lagi.
“Baik mbak alhamdulillah. Mbak sendiri bagaimana? Kapan berkunjung kesini....?”
....Dan masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul
sehingga mengharuskan kami untuk berbincang-bincang dan melepas rindu.
Annisa Nurul Madina adalah adik kelasku dulu ketika kami sama-sama
menyelesaikan sekolah di jenjang strata satu. Kami juga pernah satu
kamar dan satu kepengurusan. Dia termasuk salah satu santri putri yang
cerdas dan cantik juga. Tetapi setelah aku lulus dan menikah kami memang
tidak pernah menjalin komunikasi lagi.
Lama berbincang-bincang ternyata tak terasa sudah sangat petang dan
ketika aku hendak pulang hujanpun menyambutku dengan penuh riang
gembira. Karena deras hujan yang turun akhirnya aku memutuskan untuk
bermalam di pesantren. Tak lupa aku meminta ijin pada Mas Habibi untuk
menginap di pesantren.
Annisa menawariku untuk tidur di kamarnya dan dengan senang hati pula
aku menerima tawaran tersebut. Kamar Annisa begitu rapi dan bersih.
Koleksi buku-bukunya juga tertata rapi di lemari. Saat melihat-lihat
buku yang ada di meja Annisa matakupun tertuju pada sebuah buku kecil
berwarna coklat dan bertuliskan “Semangat Hidupku”. Ku ambil buku itu
dan ku buka lembar perlembar dari buku tersebut. Tetapi betapa
terkejutnya aku ketika membuka lembar yang terakhir terdapat foto
seorang laki-laki yang familiar bagiku dan saat ku balik foto itu ku
baca tulisan “Habibi Farhani Hidayatullah”. Deras rasanya aliran darahku
mengalir, seperti tersambar petir dan terasa sakit pula hati ini. Ku
tutup lagi rapat-rapat buku itu dan ku kembalikan ketempat semula.
Langsung ku baringkan tubuh ini di tempat tidur sambil berpikir apa yang
telah terjadi.
Dulu sewaktu masa kuliah Annisa pernah bercerita bahwa ia tengah
menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, tetapi ia tidak pernah
mengatakan siapa laki-laki tersebut. Sedangkan antara aku dan Mas Habibi
menikah karena lantaran orang tua yang menjodohkan kita.
Ku ingat kata-kata Annisa yang mengatakan bahwa sampai saat ini ia belum
ingin mengakhiri masa lajangnya karena dirasa belum menemukan sosok
yang tepat dengannya. Dan terakhir kali Annisa mengatakan bahwa ia masih
belum bisa melupakan laki-laki yang dulu pernah mengisi hari-harinya
selama dua tahun. Sepertinya semua telah terjawab.
Tepat pukul 07.00 aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku tidak
langsung berpamitan dengan Annisa karena ia sudah berangkat bekerja. Aku
hanya meninggalkan surat kecil dan ku taruh di atas meja kerjanya.
Sepulang dari pesantren rasanya tubuhku sangat lelah dan aku
membaringkan diri di kamar. Ku lihat foto pernikahanku dengan Mas Habibi
yang menempel di dinding. Ku buka lagi album kenanganku dulu. Tanpa
terasa air mataku mengalir. Ku putuskan untuk mengambil air wudhu ke
kamar mandi dan..... semua terasa gelap...
Ketika mataku terbuka ku lihat seorang laki-laki tepat berada di sampingku. Yaa itu Mas Habibi.
“Kamu pingsan di kamar mandi sayang..” tegur Mas Habibi.
“Sebaiknya kamu istirahat dulu dan nanti sore kita periksa ke dokter.”
Keadaanku semakin memburuk dan aku dianjurkan untuk rawat inap di rumah
sakit. Aku meminta kepada dokter untuk tidak mengatakan hal yang
sebenarnya kepada Mas Habibi karena aku takut mengecewakannya.
Dua hari sudah aku menginap di rumah sakit dan akhirnya aku diijinkan
untuk kembali ke rumah dan berobat jalan. Tetapi karena keadaanku yang
masih lemah aku harus duduk di kursi roda. Sesampainya di rumah aku
langsung menghubungi Annisa dan meminta ia untuk datang ke rumah. Tak
lama kemudian Annisa datang dan betapa sangat terkejutnya Mas Habibi
ketika melihat kedatangan Annisa. Ku ajak mereka berdua berkumpul di
ruang tamu.
“Mas Habibi, Annisa... maaf sudah membuat kalian terkejut. Aku sudah
mengetahui semuanya. Aku tahu bahwa dulu kalian sempat menjalin
hubungan. Dan aku juga tahu kalau Annisa masih sangat menyayangi Mas
Habibi, begitu juga sebaliknya. Aku ingin kalian bersatu lagi..”
“Maksud kamu apa sayang?” Sela Mas Habibi.
“Maaf mas aku belum selesai berbicara, aku sudah tidak mungkin lagi
menemanimu lebih lama. Aku terkena kanker rahim mas. Dan mungkin hidupku
tidak akan lama lagi....”
Belum selesai ku berbicara Mas Habibi langsung memelukku dan menangis.
Memang berat yang harus dijalani, tapi aku sangat yakin bahwa menikah
dengan Annisa adalah pilihan yang sangat tepat. Aku ingin melihat
kebahagiaan dan senyuman haru di saat-saat terakhirku.
Hari jumat, 1 januari 2012 bertepatan dengan 10 tahun usia pernikahanku
dengan Mas Habibi, akhirnya pelaksanaan akad nikah itupun berlangsung.
Hanya dihadiri oleh masing-masing dari keluarga kami dan penghulu serta
beberapa saksi. Kini resmi sudah mereka menjadi suami istri.
Selesai acara itu rasanya lelah sekali dan mataku terasa berat. ku
baringkan badanku ke tempat tidur, kupanggil Annisa dan Mas Habibi.
Tampak juga semua keluarga mengeliliku. Aku ingin melihat senyuman
mereka di saat-saat terakhirku. Aku berpesan kepada Mas Habibi dan
Annisa untuk selalu saling menyayangi dan mencintai sampai maut
memisahkan mereka. Kuambil kado yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari
sebelumnya dan kuberikan pada mereka berdua. Kado itu berisi surat kecil
dan sebuah jilbab berwarna coklat muda yang dulu pertama kali Mas
Habibi berikan kepadaku.
Teruntuk Suamiku Tercinta
“Habibi Farhani Hidayatullah”
Kado terindah dalam hidupku adalah bertemu denganmu
Hadiah spesial sepanjang hayatku adalah hidup denganmu
Kenangan termanis yang tidak akan pernah aku lupakan adalah menjadi istrimu
Dan hal terbesar selama hidupku adalah menjadi Sakinatirruhmu
Tak akan pernah ku sesali menjalin tali kasih dengan mu
Tak akan pernah ku tangisi semua yang menjadi takdirku
Hanya aku bersedih karena belum sempat membahagiakan mu
Kini tibalah waktunya aku harus pergi
Pergi untuk meninggalkan mu dan meninggalkan dunia ini
Tetapi hanya ragaku saja yang akan pergi
Karena sesungguhnya jiwaku selalu bersama mu
Terima kasih untuk hari-hari yang membahagiakan bersama mu
Terima kasih untuk semua cinta yang kau beri untuk ku
Dan Terima kasih sudah mengijinkan ku menjadi bagian dalam hidupmu
Aku sangat beruntung karena sempat memiliki mu.......
Istrimu Tersayang
“Khumairah”
Rasanya ingin sekali memejamkan mata ini. Akhirnya aku sudah dapat
bernafas lega karena telah mempersatukan dua insan yang saling mencintai
dan harus berpisah selama 10 tahun. Aku juga sudah melihat senyum
terakhir mereka yang tulus, senyum yang selalu menghiasi hari-hariku....
Kini hanya akan ada bayangan dan jejak kehidupan Khumairah yang penuh
dengan lika liku kebahagiaan dan kesedihan. Keikhlasan dan kebesaran
hatinya akan selalu menjadi hiasan terindah dalam memori setiap insan
yang mengenalnya. Rasa cinta kepada suaminyapun tak akan pernah lekang
oleh waktu. Karena sesungguhnya cinta dan kasih sayangnya....”sampai
menutup mata....”
Sekian....






Tidak ada komentar:
Posting Komentar