“Kenapa kamu bisa sayang sama aku?”
“Kenapa kamu nanya?”
Eros dan Rinjani duduk bersama di salah satu sudut tempat ngopi favorit mereka. Berbagi rok*k yang sama, Jani mulai menyalakan sebatang. Di hadapannya Eros duduk dengan tenang, entah karena memang pertanyaan Jani sama sekali tidak mengagetkan atau dia habis ngeng*nja di kampus.
“As your girlfriend, I’m just asking.” kata Jani.
“And as your boyfriend, aku merasa ini nggak perlu dibahas.” Eros menyeruput kopinya yang tinggal setengah gelas.
Wajah Jani merengut. “Kenapa?”
“Another ‘kenapa’ question? Really?”
“Eros,” Jani mulai gemas. Sifat kekanak-kanakannya muncul, menandakan bahwa pertanyaan ini harus dibahas.
“Jani, listen…” Eros memajukan duduknya, agar bisa memberikan penekanan gesture pada obrolan ini. “Kita udah pacaran tiga tahun lebih. Buat apa sih, kamu bahas-bahas hal begini?”
“Aku cuma mau tahu…”
“Biar apa?”
“Biar kalau nanti perasaan di antara kita berubah, aku bisa bikin kamu sayang lagi sama aku…”
Eros menghela napas panjangnya. Alih-alih ingin membakar rok*k, hatinya terketuk. Tangannya meraih tangan Jani dan menggenggamnya lembut.
“Rasa mungkin berubah, tapi perasaan… apalagi perasaan aku, nggak akan mungkin.”
Kali ini kening Jani yang berkerut. “Maksudnya?”
“Definisi aku, rasa adalah suasana. Ketika aku sama kamu, kayak kemarin dulu atau sekarang.” Eros mulai menjelaskan.
“Waktu kita berdua, waktu kita nongkrong sama temen-temen yang lain, waktu kamu sakit, waktu kita berantem…”
“Emang waktu aku sakit, yang kamu rasa apa? Kan yang sakit aku?”
Eros tertawa. “Tapi aku kan kesepian? Karena waktu kamu sakit, aku nggak mungkin ajak kamu pergi, apalagi nongkrong kayak gini… ya kan?”
Jani mengangguk. “Terus… waktu kita berantem, kamu kenapa?”
“Aku jengkel. Ketika kita berantem, kamu adalah manusia yang paling nyebelin yang ada di dunia ini. Rasanya aku nggak mau dekat-dekat sama kamu,”
“Jahat…” bibir Jani kembali mengerucut.
“Tapi kalau perasaan, adanya di dalam sini, dan di dalam sini.” sebelah tangan Eros menunjuk ke arah kepala dan dadanya. “Tentang apa yang aku ingat dan apa yang aku simpan tentang kamu. Kenangan dan afeksi. Tentang pribadi kamu, juga semua fakta tentang kamu dan hubungan ini, yang membuat aku yakin bahwa aku harus bertahan. Itu nggak akan pernah berubah. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang bisa merubah cowok serampangan ini jadi lebih mikirin hidup dan masa depannya, mana mungkin aku bisa nggak sayang sama kamu? Di satu sisi mungkin ada masa-masa yang harus kita lalui dengan berantem dan berantem lagi karena emosi dan kesalahpahaman, bikin hubungan kita goyang bahkan hampir runtuh, tapi karena perasaan yang aku punya buat kamu… aku masih di sini, sama kamu, kita pacaran, ngobrolin tentang ini.”
Jani tertegun. Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain menahan tangis yang siap membuncah dan menggenggam tangan Eros lebih kuat lagi.
“Jadi intinya, aku sayang sama kamu karena kamu memanusiakan aku. Sama kamu aku ngerasain semuanya. Senang, sedih, malu, marah, kecewa… Kamu berhasil bikin aku ragu, takut, tapi terus bisa bangkit lagi dan percaya, lebih berani lagi untuk mempertahankan hubungan ini. Inget nggak, kamu pernah bilang akan ada satu orang untuk semua orang? Untuk aku, aku yakin, orangnya adalah kamu. Itu yang bikin perasaan aku nggak berubah sampai saat ini, yang bikin aku masih dan akan terus sayang sama kamu.”
Jani tidak bisa menahan perasaannya. Air matanya perlahan menetes, namun senyuman di wajahnya tergaris lebih lebar dari biasanya.
“Kok nangis?” Eros berpindah duduk ke sebelah Jani, merangkul Jani dan menenangkannya.
“Jangan nangis di sini, nanti orang-orang pikir aku ngapa-ngapain kamu, Yang…”
“Aku nangis karena aku seneng,”
“Seneng pertanyaannya dijawab?”
“Kamu meperin ingus ya…” Eros mulai merasa kepala Jani di bahunya melakukan gerakan yang mencurigakan.
“Kamu sayang sama aku kan?”
Eros tertawa. “Iya, iya aku sayang… banget!” kemudian membiarkan Jani melakukan apa pun yang dia mau, termasuk saat Jani melayangkan ciuman ke pipinya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar